Thursday, 10 May 2007

REFLEKSI EMPAT DASAWARSA

UCAPAN TERIMA KASIH

Atas kontribusi dan dukungannya REFLEKSI PERINGATAN 41 TAHUN LPHAM berjalan dengan sukses, untuk itu secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan beberapa orang dan lembaga seperti:


IBU SRI PRINCEN
WILANDA PRINCEN
HAMID HUSEIN
ASMARA NABABAN
DADANG TRISASONGKO
MOHAMAD SOBARI
ORI RAHMAN
MELANI
DR. SYAHRIR
HANA RAMBE
INDRO TJAHJONO
HAMDAN ZOELVA
AM FATWA
ABDUL HAKIM GARUDA NUSANTARA
IMPARSIAL
PARTNERSHIP FOR GOVERNMENT REFORM
DEMOS
KONTRAS
APA KATA MEREKA DI 41 TAHUN LPHAM

“Indonesia memerlukan banyak pemberontak sebagaimana yang dilakukan Poncke, karena sikap tunduk sering berujung pada banyaknya tindakan zalim.”

Muhamad Sobari (Direktur Kemitraan)


“Saya berguru pada Poncke semasa menjadi tukang kliping berita di Liga Demokrasi, sikap hidup Poncke yang berani mengatakan kebenaran telah mengilhami dirinya untuk menjadi orang yang kritis terhadap orde baru.”

AM Fatwa (Mantan Sekretaris Liga Demokrasi-1963)


“Empat dasawarsa umur perjalanan HAM yang dipelopori LPHAM di Indonesia sebenarnya banyak mengalami kemajuan terutama di bidang instrumentasi dan kebijakan makro yang memfasilitasi penghormatan HAM, namun itu semua tidak di ikuti oleh kebijakan subtansial pemerintah yang masih belum mau dan mampu melawan dan melenyapkan impunitas.”

Asmara Nababan (Dewan Penasehat LPHAM)


“Walaupun Poncke seorang pejuang yang agung, konsisten dan apa adanya tapi ia tetap manusia yang memiliki perasaan yang mudah tersentuh. Ia sering menangis ketika saya menyinggung ingatannya tentang sebuah peristiwa dan seorang sosok yang erat dengan perjalanan hidupnya”

Hana Rambe (Mantan Jurnalis Harian Indonesia Raya)


“ sosok Poncke merupakan figur yang jarang ditemukan pada era saat ini, karena Poncke dengan LPHAM nya telah merintis wacana HAM menjadi sebuah gerakan. Sebuah wacana yang kini malah berubah menjadi sebuah aktivitas non gerakan, HAM hanya menjadi sebuah wacana advokasi, katanya. Untuk meningkatkan gradasi tersebut, Indonesia tidak hanya membutuhkan para ‘agamawan’ HAM tetapi juga para ‘mujahid’ HAM seperti Poncke.”

Indro Tjahjono (Mantan Koordinator INFIGHTS/SKEPHI)

Wednesday, 25 April 2007

PENGHARGAAN

PONCKE PRINCEN HUMAN RIGHTS PRIZE 2007



Latar Belakang
Poncke Princen Human Rights Prize adalah penghargaan yang diberikan untuk orang atau lembaga yang berani mengambil inisiatif pertama kali untuk melindungi dan memajukan HAM baik dalam bentuk aksi yang konsisten mempromosikan, memperjuangkan HAM dan nilai-nilai kemanusiaan maupun kesadaran penuh untuk menghentikan aksi kekerasan sistematik termasuk memberikan inisiasi pada proses perdamaian. Sesuai kriteria tersebut, penghargaan ini di ambil dari figur HJC Princen yang di catat sejarah sebagai orang yang mampu dan konsisten menunjukan kepeduliaannya terhadap martabat umat manusia, perdamaian dan hak asasi sejak ia remaja.

Penghargaan ini perlu dibuat untuk melestarikan semangat dan keberanian dalam menegakan HAM। Karena upaya penegakan HAM di Indonesia tidak hanya membutuhkan keberanian tapi juga konsistensi menempuh bahaya. Oleh karena itu, penegakan HAM Indonesia benar-benar membutuhkan lebih banyak pioneer yang memperjuangkan penegakan HAM seperti yang telah dilakukan Poncke di masa lalu. Untuk alasan itu pula, penghargaan ini akan mendorong pencarian dan mendukung aktifitas pelopor penegakan HAM diseluruh tanah air setiap tahunnya secara terus menerus.

Biodata HJC Princen
Nama Lengkap: H. Johannes Cornelis PrincenTempat Tanggal Lahir: Den Haag, Belanda, 21 November 1925

Jabatan :- Ketua Lembaga Pembela Hak-hak Asasi Manusia (Institute For Defence Of Human Rights)- Pengacara

Pendidikan :- Sekolah Dasar (SD) 7 tahun
- Sekolah Menengah Seminari 6 tahun
- Pendidikan Tentara Perwira Intelijen sampai tahun 1952

Perjalanan Karir:- Biro Penasehat Ekonomi Teppema dan Vargroup Groothandel voor Chemische Producten di Den Haag (1942-1943)- Stoottroepen Regiment Brabant dan bekerja pada Bureau voor Nationale Veiligheid (1945)- Ikut Long March dari Jateng ke Jabar bersama Batalyon Kala Hitam, kemudian bekerja di SUAD (1948-1956)- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) (1956)- Ketua Umum Lembaga Pembela Hak-Hak Azasi Manusia ({LPHAM) (sejak 1966)- Pimpinan Yayasan LBH Indonesia (1970-...)- Wartawan untuk suratkabar dan Radio Belanda di Indonesia (1969-1972)- Pengacara (sejak 1979)
- Pendengar dalam Pengkajian Pokja Petisi 50 (1988-...)- Mendirikan Serikat Buruh Merdeka - Setia Kawan dan menjadi ketuanya (1990-..)
-mendirikan INFIGHT (Indonesia Front for Human Right Defender)- Menjadi Wakil Ketua Caretaker Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) (1995)
-mendirikan KIP HAM 1996 kemudian KontraS 1998

Kegiatan Lain :- Dijatuhi Hukuman mati di Utrecht- Penghuni kamp konsentrasi Jerman di 7 kota Eropa- Ditangkap sewaktu peristiwa Madiun, bebas 19 Desember 1948- Ditahan atas peristiwa PRRI Permesta- Ditahan atas perintah Presiden Soekarno (1962-1966)- Ditahan akibat peristiwa Malari (1974-1976)- Ditahan atas tuduhan menganggu sidang DPR (1978)- Turut membela para tertuduh dalam kasusTanjung Priok (1984)- Dipanggil Kejaksaan Agung (Kejakgung) berkaitan dengan keikutsertaannya pada konferensi tentang Timor Timur (APCET/Asia Pacific Conference on East Timor) di Kuala Lumpur, Malaysia (November 1996)

Publikasi :
- Menerbitkan buku "Riwayat Hidup di Negeri Belanda" dalam bahasa Belanda (1989) yang menimbulkan kontroversi mengenai pro dan anti Indonesia
- Menerbitkan buku "Een Kwestie van Kiezen" (Kebebasan Memilih) di Belanda (1995)
Penghargaan :- Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno (5 Oktober 1949)
- Yap Thiam Hien Award 1992

Panel Juri
Mengawali penyelenggaraan penghargaan ini, pemilihan para nominee di usulkan oleh Dewan Pengurus LPHAM berdasarkan kriteria dan monitoring tertentu yang dinilai dan disepakati oleh sebuah panel juri yang beranggotakan Dewan Penasehat LPHAM yaitu:
1. Asmara Nababan (Mantan Sekjen Komnas HAM, Direktur DEMOS)
2. Dadang Trisasongko (Mantan Wakil Direktur YLBHI, Senior Advisor Anti-Corruption PGRI)
3. Bambang Widjojanto (Mantan Direktur YLBHI, Advokat)
4. MM Billah (Direktur CPSM, Anggota Komnas HAM)
5. Melani (Mantan Direktur LBH Bandung, Advokat)
6. Ori Rahman (Mantan Ketua Dewan Presidium KontraS, Advokat KontraS)

Kategori
Untuk pertama kalinya, penghargaan ini diberikan kepada tiga pihak yang telah berani melakukan upaya promosi dan penegakan HAM yaitu:
[1] Human Rights life time achievement untuk pejuang HAM, Munir (1965-2004).
[2] Human Rights Promoter and Educator untuk dosen STPDN/IPDN, Inu Kencana Syafei.
[3] Human Rights Campaigner untuk Liputan 6 SCTV.


Para Nominator

MUNIR (1965-2004)
Poncke Princen Prize for Human Rights Life Time Achievement 2007


Melengkapi berbagai pengakuan yang telah diberikan kepada Alm।Munir, LPHAM mencoba memperkuat dedikasi beliau sebagai penghargaan dengan kekhususan kepeloporan dalam bidang Hak Asasi Manusia, Alm. Munir di nilai pantas untuk dikenal sebagai pionir HAM sebagaimana Poncke juga telah lakukan di awal-awal hidupnya. Dedikasi ini diberikan karena Munir tidak saja memiliki komitmen untuk mempertaruhkan apa yang dimiliki dan dicintainya demi kemajuan HAM di Indonesia tapi lebih dari itu upayanya sedikit banyak telah memberi andil terhadap perubahan sistim hukum dan politik Indonesia yang lebih peduli terhadap HAM dan demokrasi.

Atas pertimbangan itu kami memilihnya sebagai suatu pencapaian besar sepanjang hayat (life time achievement) terhadap pemajuan HAM di Indonesia.


INU KENCANA SYAFEI
Poncke Princen Prize for Human Rights Promotor dan Educator 2007
http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=31715&ik=5
KEBERANIAN dosen IPDN Inu Kencana Syafi'i mengungkap berbagai kasus kekerasan dan penyelewengan di lingkungan kampus tempat dia mengabdikan diri puluhan tahun, disadari Inu bukan tanpa resiko. Inu merasakan, sejak tahun 2004, ketika dirinya mengungkap kasus penganiayan terhadap Praja Wahyu Hidayat, berbagai macam teror, mulai dari ancaman akan dipecat, bahkan sampai dibunuh, terus menerus diterima keluarga dan dirinya.
Begitu juga ketika dia membongkar kebobrokan IPDN yang memakan korban Cliff Muntu kali ini. Namun resiko tersebut dihadapi dengan penuh keberanian. Upayanya ini didukung sepenuhnya oleh istri tercinta Ny. Indah Prasetiati. Dalam wawancara khusus dengan Pos Kota pertengahan pekan ini, di rumahnya Kompleks IPDN, Jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Inu menyebutkan, dirinya tidak takut terhadap ancaman tersebut. “Jangankan dipecat, mati sekalipun, saya dan keluarga siap. Saya yakin, Allah SWT akan melindungi saya dan keluarga, karena apa yang saya lakukan adalah bentuk jihad, menjalankan perintah-Nya, yakni amar ma'ruf, nahi munkar. Bukan untuk membuka aib seseorang, tapi untuk memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan, supaya praktik-praktik kotor tidak terus menerus terjadi di lingkungan yang seharusnya menjunjung tinggi moral dan etika, “ tegasnya.
Sebagai seorang dosen, dengan pangkat Golongan IV C dan sudah mengabdi puluhan tahun di almamaternya, kehidupan ekonomi Inu Kencana Syafi'i jauh dari makmur. Ia bersama istrinya Ny. Indah Prasetiati dan tiga putra-putrinya tinggal di rumah dinas sederhana ukuran kecil. Menurut Inu, jika mengacu ke standar kepangkatan, rumah yang ditinggalinya untuk golongan II, padahal dia sudah golongan IV. Rumah yang terletak di Kompleks IPDN Blok C-25 ini, terdiri dari dua kamar tidur ukuran 3 x 2,5 meter, ruang tamu yang bersatu dengan ruang keluarga ukuran 3 x 5 meter, dilengkapi sebuah kamar mandi dan dapur. Sebagai kamar tidur utama, Inu membangun tanah kosong di bagian belakang rumahnya. Perabotan rumahnya pun, jauh dari kesan mewah. Hanya ada satu set kursi tamu dan sebuah lemari yang penuh dengan buku. Keluarga Inu Kencana, tidak memiliki kendaraan bermotor, baik sepeda motor, apalagi mobil. “Kemana saja bepergian, saya selalu naik angkot. “Untuk mencapai jalan Raya Jatinangor, yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer, saya berjalan kaki, biar sehat dan yang tak kalah pentingnya supaya irit ongkos,” tambahnya sambil senyum.
Ketiga anaknya, seorang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, seorang lagi kuliah di Fakultas Seni Universitas Pasundan Bandung, dan seorang lagi di SMAN 23 Bandung, Inu menyebutkan, didapat dari honor mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta dan honor dari menulis buku. Sampai saat ini Inu telah menulis 43 judul buku, terbanyak tentang Ilmu Pemerintahan yang dijadikan mata kuliah dibeberapa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Inu Kencana menyebutkan, walau sering kekurangan uang, karena gajinya ‘digadaikan’ ke bank untuk biaya kuliah program S2 di Unversitas Padjadjaran, Bandung sekaligus dipakai biaya meneliti kasus kematian Praja Wahyu Hidayat, serta berbagai kasus kekerasan di IPDN, Inu tetap bahagia. “Saya bersyukur Allah SWT memberikan berbagai kenikmatan melebihi apa yang saya inginkan,” tukasnya. “Sebagai muslim, sejak tahun 1990-an, saya ingin sekali menunaikan ibadah haji, namun sebagai pegawai negeri yang tidak bisa ngobyek, apa lagi jika menyerempet-nyerempet hal yang terlarang, keinginan tersebut, tidak lebih hanya sebagai khayalan. Namun sebagai muslim taat yang percaya kepada kemurahan Allah, Inu selalu berdoa, agar bisa ibadah haji.
Keinginan tersebut akhirnya terwujud, ketika 1994, kakaknya, seorang produser film yang akan shooting film di Mekah mengajak Inu ibadah haji. Ajakan tersebut tanpa pikir panjang disambutnya. Ia bisa naik haji dengan biaya tak lebih dari Rp 10.000. Ongkos untuk perjalanan Bandung – Jakarta, naik kereta api. Sisanya dibiaya kakak dan bantuan orang lain yang tiba-tiba saja datang, padahal orang tersebut tidak dikenalnya.

Sebagai penghargaan dengan kekhususan kepeloporan dalam bidang Hak Asasi Manusia, usahanya telah mengungkap kebenaran atas apa yang secara jahat disembunyikan oleh institusi IPDN di nilai pantas untuk dikenal sebagai pionir pendidik dan promotor hak asasi sebagaimana HJC Princen (1925-2002) juga telah lakukan di awal-awal hidupnya। Dedikasi ini diberikan karena konsistensi dan nya untuk mempertaruhkan apa yang dimiliki dan dicintainya demi terhentinya kekerasan yang menginjak-injak HAM di STPDN/IPDN dan demi perubahan sebuah institusi pendidikan yang bertujuan mulia di Indonesia yang न्य sedikit banyak telah memberi andil terhadap perubahan sistim hukum dan politik Indonesia yang lebih peduli terhadap HAM dan demokrasi walau baru hanya terfokus pada STPDN।

Atas pertimbangan itu kami melihat upaya tersebut sebagai suatu kepeloporan yang penuh resiko bagi pendidikan dan promosi hak asasi manusia (Human Rights Promotor dan Educator) dan terhadap pemajuan HAM di Indonesia.


LIPUTAN 6 SCTV
Poncke Princen Prize for Human Rights Campaigner 2007


Fokus: Kekerasan di STPDNYang Teraniaya dalam Kenangan
Titik awal pengungkapan kekerasan STPDN/IPDN 29 Maret 2003
http://www.liputan6.com/view/8,63435,1,0,1175651902.html
29/09/2003 09:47
Kisah Wahyu Hidayat yang tewas dianiaya seniornya seakan menjadi kunci kotak pandora. Satu persatu masalah yang selama ini tertutup, bermunculan. Mengejutkan dan melahirkan kegeraman.


Kasus IPDN26/04/2007 07:30 Dakwaan Berlapis Menanti Lexie dan Iyeng
25/04/2007 05:45 Alumni STPDN Membantah Aliyan Te...24/04/2007 15:28 Praja IPDN dan Pengasuh Diperi...24/04/2007 13:07 Keluarga Frans Menemui Rekto...24/04/2007 08:31 Keluarga Frans Meminta Penangguh...23/04/2007 18:36 Status PNS Sepuluh Praja Akan Di...23/04/2007 14:15 Tak Hanya Mayat Cliff yang Disun...23/04/2007 07:05 Alumnus Meminta IPDN Tak Dibubarkan22/04/2007 19:05 Rekaman Pengakuan Iyeng Sopandi22/04/2007 12:53 Polisi Akan Memeriksa Mantan Rek...21/04/2007 12:58 Kekerasan Terjadi Sejak APDN21/04/2007 06:25 Mantan Praja IPDN Stres Akibat K...21/04/2007 00:37 Lexie Giroth dan Istri Diperiksa...20/04/2007 19:35 Keluarga Andi Meminta Penangguha...20/04/2007 06:12 Status PNS Sepuluh Praja Dievalu...20/04/2007 01:46 Kepala Poliklinik IPDN Diperiksa

Berita sepekan terakhir yang masih dikejar Liputan 6 soal pengungkapan kekerasan STPDN
http://www.liputan6.com/view/2,140698,1,0,1177564033.html

Sebagai penghargaan dengan kekhususan kepeloporan dalam bidang Hak Asasi Manusia, usaha Liputan 6 SCTV yang telah mengungkap kebenaran atas apa yang secara jahat disembunyikan oleh institusi IPDN di nilai pantas untuk dikenal sebagai pionir pendidik dan promotor hak asasi sebagaimana HJC Princen (1925-2002) juga telah lakukan di awal-awal hidupnya. Dedikasi ini diberikan karena konsistensi dan komitmen Liputan 6 SCTV untuk mempertaruhkan apa yang dimiliki dan dicintainya demi terhentinya kekerasan yang menginjak-injak martabat kemanusiaan dan budaya kekerasan di STPDN/IPDN. Penghargaan ini juga dianugerahkan karena, atas upaya tersebut telah memicu berbagai evaluasi dan perubahan sebuah institusi pendidikan yang bertujuan mulia di Indonesia yang upaya Liputan 6 SCTV sedikit banyak telah memberi andil terhadap perubahan sistim hukum dan politik Indonesia yang lebih peduli terhadap HAM dan demokrasi walau dalam kasus ini baru hanya terfokus pada STPDN.

Atas pertimbangan itu kami melihat upaya tersebut sebagai suatu kepeloporan yang penuh resiko bagi sosialisasi dan kampanye publik hak asasi manusia (Human Rights Campaigner) dan terhadap pemajuan HAM di Indonesia.

KOLEGA

Desertir yang Pulang ke Kesatuannya
Oleh: Nono Anwar Makarim*


Schemering, wier zachte handen strelen
Allen die alleengelaten zijn,
En in duister met doorwonde harten
‘t luide lachen van het leven tarten…………..
A. Roland Holst


“PONCKE” Princen masuk dalam kehidupan saya pada suatu hari yang mendung tahun 1967. naik sekuter vespa, Harian Kami hari itu diselipkan dalam jaketnya. Ia masuk ke kamar saya tanpa mengetuk pintu, langsung membaca keras-keras editorial yang saya tulis untuk hari itu. Ditengah teks tajuk ia berhenti dan menangis, terharu atas pesan yang saya tuliskan semalam sebelumnya. Lengan bajunya digulung tinggi-tinggi. Tampaknya ia ingin menunjukkan otot-ototnya, seperti jagoan. Di kemudian hari saya mengetahui bahwa ia memang saban hari melatih diri angkat besi. Sebagian untuk tampak berotot, sebagian lagi agar siap mengangkat beban yang berat-berat. Mungkin beban kesendiriannya.

Sejak saat itu ia sering datang ke Kramat VIII Nomor 2, kantor redaksi Harian Kami. Sesekali ia melakukan resitasi sajak-sajak yang di ingatnya dari sekolah gymnasium di Negeri Belanda. Saat-saat itu tiba giliran saya untuk pura-pura melihat keluar jendela, malu ketahuan “mberes mili”. Dalam hati saya berpikir: tidak banyak lagi orang yang masih bias khusyuk menikmati puisi belanda tahun 1880-an. Ia hafal bait-bait sajak Van Eyck, Gorter, Van Deysel, Perk dan Kloos.
Desersi
Bagi saya, dengan segala cacat dan boncelnya, Princen adalah suatu monumen. Pada waktu-waktu tertentu kita ragu akan jalur sepi yang kita jalani. Apalagi kalau kebanyakan teman menempuh jalan lain yang ramai. Pada saat-saat seperti itulah saya membuka hati dan memandang H.J.C. Princen. Poncke Princen di sepanjang hidupnya berjalan sendiri di jalan yang sempit dan sepi. Tidak ada orang yang lebih kesepian seperti dia.

Terbebas dari kamp tahanan Nazi, ia direkrut jadi tentara walaupun enggan. Tapi, Poncke Princen adalah orang yang berpendidikan kukuh sekali. Dari Gymnasium ia masuk seminari. Barangkali ia sudah tahu sebelum diberangkatkan ke Indonesia untuk berperang merupakan pelanggaran atas undang-undang dasar Kerajaan Belanda. Kekecewaannya bertambah ketika sadar bahwa tentara Belanda datang bukan untuk membebaskan, melainkan untuk menjajah. Dalam seketika serdadu H.J.C. Princen, nomor pokok 251121085, kompi staf brigade infanteri 2, Grup Purwakarta, menjadi disertir. Ia menyeberang ke pihak republik dan bergabung dengan “onze jongens” melawan kesatuannya sendiri.

Untuk itu dia dihukum seumur hidup oleh tanah tumpah darahnya. Princen tidak boleh menginjakkan kaki di Netherland. Ketika diberi visa oleh pemerintah Belanda atas pertimbangan kemanusiaan, organisasi veteran Belanda protes keras. Mereka mengartikan visa sebagai rehabilitasi seorang disertir. Saya mengartikan protes mereka sebagai sikap menolak diingatkan bahwa sejarah telah membenarkan Princen dan menyalahkan mereka. Sebenarnya, yang dihukum seumur hidup adalah militer yang melancarkan perang penjajahan terhadap aspirasi sah suatu bangsa yang ingin merdeka. Hakimnya adalah hati nurani mereka sendiri. Princen dinyatakan bebas oleh hati nuraninya.

Poncke
Itu belum cukup. Nama “Poncke” konon diperolehnya dari roman yang digemarinya tentang pastur jenaka di Belgia Utara yang bernama Pastoor Poncke. Pada tahun 1994 perkumpulan penggemar roman tahun 1940-an tersebut mengadakan rapat dan memutuskan untuk melarang H.J.C Princen menggunakan nama Poncke.

Siapalah yang peduli. Ia toh sudah lama terbiasa tak punya apa-apa. Semua sudah diambil darinya, termasuk kesehatannya. Saya masih ingat ketika ia dipanggil untuk menaiki panggung guna menerima anugerah Yap Thiam Hien. Yang bergerak menuju panggung, tanpa tongkat, tanpa bantuan pengantarnya, adalah sosok yang sudah rongsok digempur stroke berkali-kali. Pada saat itu Poncke terkesan pada saya seperti kapal perang yang babak belur, compang-camping pulang dari berperang, masuk ke pelabuhan tanpa tepuk dada, tanpa sorak-sorai. Sekarang kapal itu masuk dok untuk selama-lamanya. Rohnya kini bebas keluar masuk De Haag, Heestede, Amersfoort, Enschede, Harleem dan Sukabumi. Bebas juga dari protes kerdil para veteran perang kolonial, dari Drs. Kamsteeg yang melarangnya menggunakan nama Poncke. Yang tersisa hanya semangatnya. Sang desertir sudah pulang ke kesatuannya.[1]

Mantan Pemred Harian Kami,
Ketua Dewan Pelaksana Yayasan Aksara
Jakarta, 23 Feb 2002
[1] Tempo, Desertir yang Pulang ke Kesatuannya, Nono Anwar Makarim Tempo Edisi 020303-052/Hal.42, Rubrik Kolom

OBITUARI

PENGUNGKAP PERTAMA KEJAHATAN ORDE BARU PONCKE PRINCEN TUTUP USIA

Oposan abadi itu telah tiada. Tokoh pejuang hak-hak asasimanusia Haji Cornelis Poncke Princen meninggal dunia Jum'at dini haripada usia 77 tahun. Maka sejak pagi hari teman-teman aktivis antiOrde Baru sudah memenuhi halaman rumah kediamannya Jalan ArjunaIII/24 Jakarta Timur. Dari rumah duka itu berikut laporan korespondenSyahrir
Princen sebelumnya lumpuh karena beberapa kali mengalami stroke।"Poncke selama ini konsisten memperjuangkan demokrasi dan HAM," kataRahman Tolleng yang bersama Poncke pernah ditahan selama dua tahunpada 1974. Sebelum peristiwa Malari, Poncke sudah beberapa kaliditahan pihak Kopkamtib. Bahkan ia pernah merasakan beratnya ditahandi Gang Buntu, kamp tahanan Satgas Intel Kopkamtib di Kebayoran Lama.Tempat ini dikenal sebagai tempat penyiksaan yang paling seram diseluruh Indonesia. Tempat tahanan yang mirip kamp interogasi tahananGang Buntu hanyalah kamp tahanan Jalan Gandhi di Medan. Tetapi Poncketidak pernah bisa diintimidasi atau ditakut-takuti pihak militer.Bukankah ia sudah biasa diinterogasi baik oleh TNI maupun KNIL,tentara Belanda. Poncke Princen dikenal konsisten berjuang sejakjaman kolonial Belanda, zaman Sukarno dan zaman Soeharto. Yangmengkhawatirkannya adalah terlalu banyak pertumpahan darah diIndonesia.Poncke Princen : Kita tentu musti mengetahui juga bahwa darah banyakorang mengalir sebelum kita menjadi merdeka dan bahwa sewaktu kitamerdeka banyak darah yang lain yang mengalir kembali. Ada peristiwa'65, ada peristiwa Darul Islam, ada peristiwa perang saudara danlain-lain.Sebagai serdadu Belanda ia bergabung dengan pejuang-pejuangkemerdekaan dari pihak kiri. Tetapi hampir saja ia dibunuh mereka.Iadiselematkan tentara Siliwangi yang dipimpin Kolonel Kemal Idris.Maka tidaklah mengherankan jika Kemal, jenderal yang sudah sepuh ituyang dahulu melawan Soekarno maupun Soeharto juga hadir di rumahduka. Poncke memang merupakan seorang tokoh yang kritis yang selalumengambil peran oposan di setiap zaman. Ia seorang yang pantangmenyerah, mendengarkan kata hatinya dengan baik dan tidak takutmemikul akibatnya.Menurut Hana Rambe penulis biografinya, ia pernah mendengarkan siaranRadio Australia. Seorang pendeta mengutip ayat Perjanjian Baru.Bunyinya antara lain:Ketika Aku haus, kau tak datang memberiku minum.Ketika Aku seorangasing, kau tak memberi Aku tumpangan. Ketika Aku telanjang kamu tidakmemberi Aku pakaian.Ketika Aku sakit dan dalam penjara kamu tidakmelawat Aku. Ayat-ayat ini dikenal Princen dengan baik karena ia pernah menjadicalon pastor. Inilah jawaban yang dicarinya. Menolong orang lain padasaat mereka memerlukannya. Meski demikian Poncke tetap bertahan padakeyakinannya. Ia dikuburkan sebagai seorang Muslim. Ketika di penjaraacapkali pun ia menganjurkan teman-temannya untuk membaca Al Quran."Ini buku yang baik," katanya kepada teman-temannya yang beragamalain.Poncke selalu berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Pada saat iameninggal hanya teman-teman ex penjaranya saja yang hadir bersamasejumlah mantan aktivis HAM dan beberapa tentara ex Divisi Siliwangi.Tidak ada utusan pemerintah yang hadir. Padahal ia sebagai pemegangBintang Gerilya yang pada awal kemerdekaan diberikan oleh Soekarno,sebenarnya berhak dikuburkan di Taman Pahlawan. Tetapi menurutWilanda Princen, putrinya Poncke, bapaknya sebelum meninggal sudahmemesan agar ia tidak dikuburkan di Taman Pahlawan karena disanaterdapat banyak koruptor dan pengkhianat bangsa.Namun sudah sepatutnya bila salah seorang wakil pemerintah hadir padapemakaman Princen. Bukankah Princen pun seringkali membelaPDI-Perjuangan dan Megawati ketika Mega masih dalam posisi tertekan?Poncke Princen : Ini permulaan dari peridode yang baru dimana kitapada saat ini kita mulai berpikir mengenai "the rea valuesl" mengenainilai-nilai yang benar. Saya kira saat ini saatnya untuk mengkoreksiapa yang perlu dikoreksikan untuk mencapai suatu Indonesia yang lebihbagus dan yang lebih indah. Kalau saya boleh tambah sedikit dari dirisendiri, adalah karena saya punya istri dan saya punya anak buah matiuntuk itu. Dan saya bilang ya mengapa demikian oleh karena dalam halitu saya sudah menyatu dengan bangsa Indonesia.Tetapi menurut seorang temannya jasa terbesar pendiri LBH dan LP HAMini adalah ketika ia mengunjungi Purwodadi di tahun 1968. Berkatpemberitaan dan protes Ponckelah sehingga Soeharto,Panggabean danSurono menghentikan pembunuhan massal di Purwodadi,Jawa Tengah.Padahal setelah pemberontakan di Blitar Selatan, pada 1967, Soehartosudah menginstruksikan untuk membunuh ribuan tapol di kantor-kantorKoramil dan KodimTetapi hari ini yang mencolok, tidak banyak bekas tapol PKI yangdatang ke pemakaman Poncke Princen yang pernah aktif di Liga AntiKomunis semasa Soekarno. Poncke sendiri setelah peristiwa Purwodadiditangkap Kopkamtib dengan tuduhan Komunis, karena kakaknya menurutKopkamtib adalah anggota Partai Komunis Belanda. Tetapi sesungguhnyaSoeharto dan tentara itu sangat takut pada sikap non-kompromiPrincen.
Kompas, Pengungkap Pertama Kejahatan Orde Baru, Poncke Princen Tutup Usia, Jum’at, 22/02/2002

Thursday, 19 April 2007

WARNA-WARNI PONKE

RIWAYAT HIDUP HJC PRINCEN, WARTAWAN ASAL BELANDA PENUHWARNA-WARNI. ORANG YANG SERING DIPANGGIL PONCKE INI PERNAHDIJATUHI HUKUMAN MATI DI BELANDA. IA KAWIN DENGAN WANITAINDONESIA DAN MENJADI WNI

MEMANG saja wartawan। Apakah itu djelek?" Itu pertanjaan HJC Princen, dalam tangkisan kepada mingguan Chas jang minggu kedua Pebruari memuat riwajat-hidupnja dengan beberapa hal jang menurut Princen "tidak benar"। Princen selain bekas tokoh partai IPKI dan Ketua Hak-Hak Azasi Manusia memang wartawan. Tapi tiga hari sebelum ia menulis tangkisan tersebut ia diberhentikan sebagai koresponden (dalam masa pertjobaan) radio NCRV di Negeri Belanda. Hanja kerdja kewartawanannja dari mana ia bisa hidup--ternjata tak berachir begitu sadja. Beberapa hari setelah keputusan NCRV, ia dipungut oleh surat kabar Het Vrije Volk.Adakah Het Vrije Volk akan kemudian memberhentikannja pula? Pertanjaan ini bisa sadja timbul, mengingat sebelum enam bulan dia bekerdja untuk NCRV, ia bekerdja enam bulan untuk radio AVRO. Nasib jang bergelombang seperti itu, dua kali digeser selama satu tahun, memang nampaknja tak bisa dilepaskan dari "dosa asal" Princen jang sudah Hadji itu. Riwajat hidupnja tidak chas tjerita karier seorang wartawan profesionil, jang mendjalani sebagian hidupnja sebagai pengamat peristiwa tanpa melibatkan diri dalam peristiwa - baik itu soal sport atau perang. Riwajat hidup Princen djustru adalah riwajat hidup seorang jang seringkali terlibat dalam peristiwa-peristiwa jang tidak biasa. Menurut tjeritanja sendiri ditahun 1944 ia pernah didjatuhi hukuman mati di Utrecht, sebab tertangkap ketika sebagai anak muda ia mentjoba melarikan diri ke Inggeris dari Negeri Belanda jang di duduki Djerman. Hukuman itu diubah djadi hukuman pendjara, dan setelah masuk dalam beberapa kamp konsentrasi di Eropa sampai dengan kalahnja Djerman dalam Perang Dunia ke--II, ia dibebaskan tentara Amerika. Negeri Belanda bebas, tapi Princen harus mengalami peristiwa lain: dia dipanggil untuk wadjib militer oleh Pemerintah Belanda waktu itu buat dikirim bersama pasukan pendudukan ke Indonesia jang baru sadja menjatakan kemerdekaannja."Saja tidak setudju dengan itu", tulis Princen, "berdasarkan pendirian jang sederhana sekali: waktu kita diduduki oleh Djerman, kita merasakan bagaimana kalau harus hidup dibawah perintah-perintah suatu pendjadjah". Maka ia lari ke Perantjis, tapi kemudian kembali ke Negeri Belanda "karena ibu saja sakit", dan kemudian di tangkap dan kemudian dikirim ke Indonesia --jang ternjata kemudian djadi tanah airnja.Hadiah Nobel. Disini segera Princen jang pernah menempuh peladjaran Gymnasium A (Kesusastraan), dengan tjepat bergaul dengan seniman dan intlektuil Indonesia, termasuk Asrul Sani jang pernah djadi seorang komanda Laskar Rakjat. Tak lama kemudian di menjeberang kefihak Republik, masl Islam dan menikah dengan seorang gadis Tjipriangan. Bagaimana ia masuk Islam tak diketahui, tapi pemuda Belanda jan kemudian mentjoba menulis puisi bahasa Sunda itu menurut Asrul pernah ketemu dengan seorang hadji jang dikagumi sebagai orang jang "lebih bidjaksana dan Thomas Mann", itu pengarang Djerman pemenang Hadiah Nobel jang mengungsi dari kekuasaan Hitler. Jang djelas ialah bahwa ia diwaktu pemberontakan Madiun ikut ditangkap bataljon Sudiarto jang kiri, dan njaris dibunuh. Untung datang pasukan Kemal Idris dari Siliwangi jang membebaskan Pati dan membebaskan Princen. Ia kemudian ikut Long March ke Djawa Barat bersama bataljon "Kala Hitam" Kemal Idris. Ia memimpin satu pasukan, dan dalam suatu pertempuran dengan Belanda kehilangan anak buah dan isterinja, Odah. Tapi nasib djeleknja belum berachir rupanja. Di masa Soekarno ia ditahan tanpa diadili bersama sedjumlah pemimpin Masjumi PSI dan orang-orang pers seperti Moch tar Lubis. Diawal 1972, ia ditahan olel Kopkamtib buat 29 hari - dan riwajat hidupnja jang unik itu rupanja menarik perhatian kembali. Ditahun 1969 ketik ia mengemukakan apa jang disebut "pembunuhan bergelombang" di Purwodadi biografi Princen djuga pernah diperdebatkan: Gubernur Munadi menuduhnja "komunis", dan Majdjen (waktu itu) Kemal Idris, Kol. (waktu itu) Ali Said serta Asrul Sani membantah.Juliana. Apa dan siapapun Princen nampaknja bukanlah orang jang ditakdirkan untuk hidup tenang. Dia ditjopot oleh AVRO karena, menurut penuturan nja, mungkin radio itu tjemas bila Ratu Juliana jang waktu itu sedang hcndak berkundjung ke Indonesia akan diinterview oleh sang koresponden: bekas seorang deserteur pasukan Keradjaan. Dia diberhentikan NCRV karena penahanannja oleh Kopkamtib menimbulkan kontroversi di Negeri Belada, dan akibatnja "mereka menganggap dan meragukan objektifitas saja sebagai wartawan", kata Princen. Princen tidak setudju dengan alasan itu. Tapi nampaknja selalu pertimbangan laba-rugi setjara dagang, radio swasta itu bisa dimengerti pula djika menghendaki wartawannja hanja sebagai penonton peristiwa, bukan peserta peristiwa. Princen, jang sehari-hari kadang di panggil Ponke, betapapun kini sudah bekerdja djadi wartawan lagi: meskipun orang ada baiknja mengharap agar dia menulis suatu otobiografi.

MBM TEMPO EDISI 02/02, 18 Maret 1972, Hal. 18

Jalan Tikus ke Belanda

Tokoh hak asasi manusia, Princen, dicekal Belanda. Ia dianggap masih sebagaiseorang desersi. Princen bertekad masuk ke tanah leluhurnya
SUDAH nasib Haji Johanes Cornellius Princen dicekal di sana- sini। Selamasembilan tahun terakhir, ia, misalnya, tak boleh meninggalkan Indonesia karenadianggap terlalu vokal menyuarakan pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM).Pekan lalu, ketika aparat keamanan Indonesia tidak lagi mencegahnya pergi keluar negeri, Princen malah ditangkal Departemen Luar Negeri Belanda supaya takmasuk ke Negeri Kincir Angin itu. ''Padahal saya ingin sekali bertemu denganlima anak dan empat cucu saya yang ada di Belanda,'' katanya. Princen, 67tahun, yang menghadiri pertemuan tahunan masalah hak-hak asasi manusia diJenewa, semula berharap bisa menjejakkan kaki di tanah kelahirannya, Den Haag.Harapannya punah ketika diberi tahu bahwa dirinya tak diizinkan masuk kenegeri leluhurnya. Mengapa Princen tak boleh ke Belanda? ''Saya tak berhakmenjelaskannya. Kedutaan telah memberi tahu secara tertulis kepada Princenkenapa dirinya tak mendapatkan visa masuk ke Belanda,'' kata seorang pejabatKedutaan Besar Belanda di Jakarta. Pada 1980, lanjutnya, Princen juga pernahmencoba mendapatkan visa masuk Belanda, juga ditolak.Mengenai alasan pencekalan dirinya itu, kata Princen, karena PemerintahBelanda masih mengungkit-ungkit masa lalunya. Ia dituduh melakukan desersiketika diberi tugas sebagai tentara Belanda ke Pulau Jawa. Pada 1948, Princenmenyeberang dan bergabung dengan tentara Indonesia. ''Saya, oleh PemerintahBelanda, dianggap banyak terlibat dalam operasi militer yang mengakibatkantentara Belanda gugur,'' ceritanya. Atas jasanya di masa Perang Kemerdekaanitu, Princen dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah RI.Alasan lain, tambah pejuang hak asasi itu, ia dianggap melanggar janji takboleh bicara politik di Belanda. Ia teringat peristiwa di tahun 1978, ketikadiberi izin menghadiri pemakaman ibunya di Kota Zwolle. Waktu itu ia diajakberbincang-bincang masalah politik oleh anggota Komisi Luar Negeri di ParlemenBelanda. ''Inisiatif itu datang dari anggota Parlemen, bukan dari saya,''katanya.Pencekalan Princen itu ternyata mengundang reaksi di Belanda. Setidaknya darikalangan politisi muda Partai Demokrat '66, Partai Buruh, dan Groen Links.Mereka melihat masa lalu Princen tak layak dipersoalkan lagi alias sudahkedaluwarsa. Karena itu mereka berharap pencekalan terhadap Princen supayadicabut. Apalagi Princen pernah menjadi nara sumber penting buat MenluKooijmans. Sebelum dan setelah Peristiwa Dili (November 1991) pecah, merekaberdua sering bertemu di Jakarta. Ketika itu Kooijmans bekerja untuk PBBsebagai rapporteur untuk melihat pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia.Namun, bisa dimengerti pula kalau ada sikap yang keras dari kantor Kooijmansterhadap Princen ini. Boleh jadi sikap ini mewakili aspirasi sisa-sisapensiunan tentara KNIL, yang tak pernah melupakan Princen sebagai penghianat.Menghadapi itu Princen tidak takut. ''Sekalipun nanti saya diludahi,dilempari dengan tomat busuk, atau bahkan ditembak oleh bedil tua. Kalau sayamati, itu tak lebih dari sebuah akhir yang terjadi lebih awal dari yangdirencanakan,'' kata Princen seperti dikutip koran Volkskrant terbitan 11Agustus ini.Kini Parlemen sedang menanti penjelasan Menteri Kooijmans atas beleidkantornya yang mencekal Princen. Menteri Kooijmans dikabarkan masih berlibursampai pekan depan. Tentang tekad Princen bila tak diberi visa? ''Dengansegala cara, saya akan tetap ke Belanda. Saya sudah tahu jalan-jalan tikusuntuk masuk ke sana. Saya mungkin tinggal satu-satunya orang Indonesia yangmasih berjuang melawan kolonial Belanda,'' katanya dengan nada lirih.
MBM TEMPO EDISI 25/23, 21 AGUSTUS 1993 Hal. 26